Minggu, 03 Agustus 2014

[Review] Wonder



Judul buku : Wonder
Penulis : R.J. Palacio
Harga : Rp 49.900,-
Halaman : 430 + vi hal
Terbit : September 2012
Penerbit : Atria

Blurb :

DON’T JUDGE A BOY BY HIS FACE

"Kuharap, setiap hari adalah Halloween. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu kita bisa berjalan-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita di balik topeng."

August (Auggie) Pullman lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja terlihat berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya, dia adalah anak yang lucu, cerdas, dan pemberani.

Auggie mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie adalah anak biasa dengan wajah yang sangat tidak biasa.


***

Komentar Cizu :

Apa yang akan kau minta jika menemukan sebuah lampu ajaib dan diberi sebuah permohonan?

Buku-buku terbaru? Gadget paling canggih? Pasangan yang tampan/cantik?

Auggie tidak minta yang muluk-muluk. Hanya sebuah wajah normal, yang tidak akan pernah diperhatikan siapa pun.  Ya, Auggie hanya ingin menjadi salah satu diantara kita.

Jika selama ini kita selalu disuguhkan cerita yang berisi pria-pria tampan dan wanita-wanita sexy, mari lupakan konsep itu sejenak. Karena tokoh utama dalam novel Wonder, sama sekali tidak ingin menggambarkan seperti apa tampangnya. Ia percaya apa pun yang kau bayangkan, mungkin keadaannya lebih buruk.

Meski sudah menjalani dua puluh tujuh kali operasi plastik, wajah Auggie tetap tidak setampan aktor Korea. Karena itu Auggie ketakutan setengah mati, ketika mendengar Ibunya akan mendaftarkannya ke sekolah. Bagaimana tidak? Auggie benci tempat ramai. Ia takut bertemu orang-orang. Ia takut melihat ekspresi orang saat melihat wajahnya.

Hiiii…! Uhh..!

Seakan-akan Auggie adalah monster berjalan atau alien yang terdampar ke bumi. Padahal, bagi yang sudah mengenal dekat, ia hanyalah seorang bocah sepuluh tahun biasa. Suka bermain game, maniak Star Wars, dan punya koleksi komik-komik.

Pada akhirnya, Mom berhasil membujuk Auggie untuk bertemu Mr. Tushman (Kepala Sekolah Menengah Umum di Beecher Prep) dan melihat-lihat sekolah. Tentu saja, Auggie akhirnya menyetujui untuk masuk sekolah. Ia menyukainya.

Maka, dimulailah petualangan bocah dengan kelainan gen Mandibulofacial Dysostosis ini menghadapi berbagai macam problema di sekolah menengah umum.

Ketika saya membaca paragraf pertama novel ini, saya langsung yakin akan jatuh cinta pada novel Wonder ini. Dan, yaaa saya jatuh cinta! Saya suka dengan penuturan POV Auggie yang khas anak-anak. Sejujurnya, dengan apa yang dialami oleh Auggie saya sering kali lupa bahwa ia hanya anak berumur sepuluh tahun. Tapi bagaimana ia membuat sebuah gua dari tumpukan boneka hewan, bagaimana ia merengek pada Ibunya ketika akan dipasangkan alat pendengar, dan hal-hal semacam itu mengingatkan saya kembali pada umur Auggie yang sebenarnya.

Awalnya saya pikir novel ini hanya akan menggunakan POV Auggie saja, tapi ternyata ada beberapa POV lain yang turut menggerakan alur cerita. Ada POV Via, Jack, Summer, Justin, dan Miranda. Untuk menceritakan apa yang terjadi dalam benak tokoh-tokoh itu, pengarang  lebih memilih menjadi mereka ketimbang menggunakan POV Pengarang Serba Tahu. Dan saya yang memang lebih menyukai sudut pandang orang pertama, merasa enjoy-enjoy saja dengan gaya penceritaan pengarang. ^^

Selama membaca novel ini, emosi saya dibuat turun naik. Bisa dibilang, saya tertawa dan menangis bersama Auggie. Ada beberapa adegan yang rasanya benar-benar menyayat hati saya. Oke, mungkin menyayat itu kata yang terlalu berlebihan.  Yang jelas saya menangis. Misalnya saja, saat insiden Halloween.

Bocah tikus. Aneh. Monster. Freddy Krueger.  E.T. Menjijikan. Wajah kadal. Mutan. Aku tahu semua julukan mereka untukku. Aku sudah mengunjungi cukup banyak taman bermain untuk menyadari bahwa anak-anak bisa bersikap kejam. Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu.

(August POV: hal 111)

Atau ketika Auggie bertengkar dengan Via dan Mommy karena drama di sekolah Via.

“Berhentilah berbohong padaku, Mom!” jeritku. “Berhentilah memperlakukanku seperti seorang bayi! Aku tidak terbelakang! Aku tahu apa yang terjadi!”

(August POV: hal 298)

Satu hal yang saya sangat suka dari novel ini, adalah penggambaran karakternya yang manusiawi. Tidak ada putih, atau hitam. Tentu saja, ada karakter antagonis seperti Julian (yang terbayang seperti Santiago Amigos dalam benak saya :3). Tapi Julian bukan anak yang sangat jahat, yang seolah-olah kerjaannya hanya menjahili Auggie saja. Omong-omong, dari Goodreads saya tahu bahwa ternyata R.J Palacio menuliskan cerita tentang Julian, yang diberi judul  “The Julian Chapter : A Wonder Story’. Keren!

Omong-omong, karakter favorit saya selain Auggie adalah Dad. Juga Daissy, anjing mereka yang tidak pernah mempermasalahkan bagaimana wajah Auggie. Oh, satu lagi. Mr Browne, saya berharap ada guru sekeren beliau saat saya SMA dulu.

Novel ini memberi kesan yang sangat dalam bagi saya. Wonder, memberi dukungan terhadap  “Auggie-Auggie” lain untuk tidak menyerah menghadapi hidup yang kurang ramah. Namun tidak menghakimi mereka, yang masih belum bersikap ramah.

Hei, sejujurnya, kalau ada Wookiee yang tiba-tiba bersekolah, aku pasti penasaran, dan mungkin akan menatapnya! Dan jika aku sedang berjalan bersama Jack atau Summer, mungkin aku akan berbisik pada mereka : Hei, itu si Wookiee. Dan kalau si Wookiee memergokiku mengatakannya, dia pasti tahu aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya menegaskan kenyataan bahwa dia adalah Wookiee.
(August POV : hal 87)

Saya berharap ada lebih banyak novel-novel sejenis Wonder yang beredar di pasaran. Dan saya akan selalu menantikan novel terjemahan baru dari R.J Palacio atau apapun nama pena yang digunakannya. :D


Rating : 5/5 Bintang.

0 komentar:

Poskan Komentar