Minggu, 15 September 2013

[Review] The Hunger Games


Judul buku : The Hunger Games
Penulis : Suzanne Collins
Harga : Rp 58.000,-
Halaman : 408
Terbit : Oktober 2009
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Blurb : 

Dua puluh empat peserta. Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di bekasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikeliling dua belas distrik. Katniss gadis 16 tahun tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di distrik termiskin di Distrik12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing Distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung sampai mati dan ditayangkan secara langsung di acara televisi "The Hunger Games". Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti Hunger Games, Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.

Publishers Weekly`s Best Books of The Year
New York Times Notable Children`s Book of 2008



***


What Cizu Think?

Suatu hari, gue pernah membaca di linimasa kak Hetih Rusli (penerjemah novel ini) tentang ketidaksukaannya pada orang-orang yang mengecap The Hunger Games sebagai peniru Battle Royale. Saat itu, ia dengan semangat menggelora mengatakan bahwa THG sama sekali berbeda dengan BR. Ia juga menantang orang-orang tersebut untuk membaca THG terlebih dulu, baru berpikir ulang tentang ucapannya.

Gue menulis review ini, setelah gue selesai menonton Battle Royale. Dan menurut gue, satu-satunya kesamaan diantara kedua judul tersebut hanyalah tema besarnya. Survival game dan bunuh-bunuhan. Selebihnya, sama sekali berbeda.

Bahkan, lagi-lagi menurut gue, The Hunger Games ini jauh lebih bagus daripada Battle Royale. Karena, The Hunger Games tidak hanya menyuguhkan adegan bunuh-bunuhan semata, tapi juga plot yang menarik dan penulisan yang apik.

Katniss Everdeen, salah seorang penduduk di Distrik 12 mendadak terkenal, karena dengan berani mengajukan diri untuk menggantikan adiknya yang malang, Primrose Everdeen yang seharusnya terpilih sebagai salah satu peserta The Hunger Games. Dari sinilah, perjalanan Katniss dimulai.

Katniss pun memulai hari-harinya yang menakjubkan di Capitol, bersama dengan rekan seperjuangannya dari Distrik 12, Peeta Mellark. Mereka menjalani serangkaian treatment, bertemu dengan perancang busana yang memiliki selera unik, lalu berlatih dengan mentor mereka yang terlihat payah dan gemar bermabuk-mabukan.

Hal yang terakhir sedikit mengkhawatirkan Katniss, karena ia sama sekali tidak berniat kalah. Ia sudah berjanji untuk melakukan yang terbaik, pada adiknya. Ditambah lagi, peserta-peserta yang lain memiliki karakter dan kekuatan yang berbeda-beda. Ada Cato, anak laki-laki dari Distrik 2 yang ahli menggunakan senjata. Thresh dari Distrik 11 yang berbadan besar dan sangat kuat itu juga tidak bisa diremehkan.

Lalu, bagaimana Katniss yang berukuran lebih kecil dari peserta lainnya, ini bisa kembali ke adiknya hidup-hidup?

Sebagaimana acara reality show lainnya, The Hunger Games pun memiliki visi untuk 'menghibur' para penontonnya. Jika penonton menyukai apa yang dipertunjukan oleh peserta, maka peserta tersebut akan mendapat semacam bantuan dari para sponsor. Namun jika penonton bosan, maka siap-siap saja para peserta itu menghadapi berbagai macam rintangan yang mungkin saja menewaskan mereka.

That's it, sodara-sodara. Gue rasa gue nggak berlebihan saat bilang plot novel ini benar-benar menarik. Nggak heran ya, ini buku laris banget.

Secara keseluruhan, gue menikmati konflik demi konflik yang disuguhkan oleh tante Suzanne selama Hunger Games berlangsung. Mulai dari Katniss yang dehidrasi, dikejar bola api, dsb dsb. Cara penyelesaiannya pun kreatif, nyaris nggak terduga dan tetep bisa diterima sama akal.

Karakter Katniss yang cenderung meledak dan termasuk dalam golongan cewek-cewek perkasa ini pun, cukup gue sukai. Lalu, ada Gale. Teman berburu Katniss, yang gue nobatkan menjadi kandidat terkuat pasangan Katniss. Ada juga Peeta Mellark, cowok yang tidak terlalu kuat namun baik hati dan hangat, yang cukup menarik perhatian.

Buat para penggemar romance, don't worry be happy karena novel ini juga membumbui adegannya dengan percikan-percikan romantis. :p

Pada akhirnya, gue jadi ingin mengoleksi ketiga series ini (novel yang gue baca untuk menulis review ini adalah pinjaman dari you-know-who). Semoga masih ada diskon untuk boxset Hunger Games Series ini saat Jakarta bookfair Oktober mendatang. x3

PS : karena gue cinta damai, gue terpaksa tidak bisa memberi rating full untuk novel ini.

Rating : 4/5 bintang.


Review ini diikutsertakan dalam :
-2013 New Authors Reading Challenge

1 komentar:

Ryana Maryana mengatakan...

ini juga buku inceranku kalau dateng ke bookfair >.<

Posting Komentar