Kamis, 24 Oktober 2013

[Review] Cosplay dan Kebanggaan Mereka (Cosplay The Series, #1)


Judul buku : Cosplay dan Kebanggaan Mereka (Cosplay the Series #1)
Penulis : Bonni Rambatan
Harga : Rp 39.000,-
Halaman : 202
Terbit : Juni 2012
Penerbit : Plot Point 

Blurb :

Annisa sedang gelisah. Sekolah sudah menjatuhkan vonis: Klab cosplaynya akan dibubarkan. Vincent-senpai Sang Pendiri dengan wajah bishonen-nya, Ocha Sang Ketua dengan kip[as kertas dan keceriaannya, Agnesya Sang Lolita dengan renda dan aksesori-aksesori lucunya, Eka Sang Komikus, Bagas Sang Ksatria Baja, mereka sudah menjadi sebuah keluarga. Lalu, mereka harus pisah begitu saja?

Mereka jelas harus berjuang. Mengalah bukan pilihan. Mereka harus menghadapi pihak sekolah, meyakinkan keluarga, tapi pertama mereka harus bisa menjawab pertanyaan yang lebih penting: Apa arti cosplaying bagi diri mereka masing-masing?

***
Komentar Cizu :

Gue membeli buku ini lantaran gue suka banget sama Jejepangan. Ditambah lagi, tema yang diangkat adalah Cosplay. Tema yang bisa dibilang baru di Indonesia. Untuk itu, gue menyatakan salut pada Plot Point yang berani menerbitkan buku ini, dan apa ya.. Plot Point kayak memberi ruang untuk penulis-penulis baru untuk menggarap tema yang nyentrik sekalipun.

Seperti yang sudah gue duga, buku ini punya segmen pembaca yang terbatas karena nggak ada footnote sama sekali di dalamnya. Dan kayaknya cuma orang yang doyan Jejepangan yang ngerti istilah-istilah di buku ini kayak : oppai mousepad (uhuk!), subarashii (luar biasa), tadaima (aku pulang!), dsb. Sebaiknya untuk series selanjutnya, penulis juga menambahkan footnote untuk memudahkan pembaca. :D

Yang namanya Oppai Mousepad tuh ini :

Diambil dari sini.
Novel yang rencananya akan diterbitkan sebanyak 9 Volume ini, bercerita tentang perjuangan para anggota Q-Cosushinkai yang berjumlah 11 orang (kalau gue nggak salah menghitung ya :P) dalam mempertahankan klubnya tersebut. Adalah Sukma, mantan sahabat baik Vincent yang menjadi dalang dari rencana pembubaran klub tersebut. Sukma membuat alibi ingin membubarkan klub tersebut karena Q-Cosu dianggap tidak menjunjung budaya Indonesia. Namun sesungguhnya, ada alasan yang lebih besar atas kegigihannya ingin membubarkan Klub tersebut.

Novel ini mengajak kita mengenal pribadi masing-masing anggota dan mencari tahu cara apa yang mereka lakukan untuk memperjuangkan eksistensi klub mereka. Karena karakter dalam novel ini sangat banyak, tentunya tidak semua karakter mendapat porsi yang sama. Di volume perdana ini, baru Anissa, Agnesya, Ocha, dan Bagaslah yang kehidupannya dikupas tuntas setajam silet.

Agnesya, adalah seorang lolita (lihat cover buku) yang menolak diatur mengenai bagaimana ia harus berpakaian. Si penyuka gaun renda-renda ini menganggap tidak ada yang salah dengan gaya berpakaiannya. Meskipun setiap orang yang ditemuinya mengiranya aneh atau bahkan gila, ia tidak akan mengingkari jati dirinya.

"Tujuan Nesya dandan kayak gini sama sekali bukan untuk menarik perhatian. Nesya dandan gini untuk bilang bahwa Nesya nggak malu jadi cewe, Nesya nggak malu masih suka boneka, komik, cerita anak-anak.. Nesya nggak malu walaupun dianggap aneh. Nesya nggak malu jadi Nesya." (hal 64)

Jujur, gue belum pernah ketemu sama seseorang yang gemar berpakaian ala kerajaan dalam kesehariannya. Tapi seru juga kali ya, punya temen nyentrik kayak Agnesya. Dan jangan salah, harga sebuah gaun Lolita itu mahal pake banget loh! Bisa mencapai jutaan Rupiah. Jadi jangan memandang seorang gadis Lolita sebelah mata ya, kalo nggak mau dikepret pake duit. #plak.

Kemudian ada Ocha, sang wakil ketua Klub yang tiba-tiba menghilang saat Q-Cosu hendak mengadakan rapat terakhir menjelang presentasi ke Kepala Sekolah. Lalu sikapnya yang ceria dan galak yang mendadak berubah menjadi pemurung, hingga ketidak-hadirannya di kelas hingga berhari-hari. Ada apa dengan Ocha? (Bukan, ini bukan sekuelnya Ada Apa Dengan Cinta x3).

Terakhir, ada Bagas yang mudah gugup dan gemar ber-cosplay menjadi tokoh Tokusatsu (seperti Kamen Rider a.k.a Ksatria Baja Hitam). Ia seperti menemukan kebanggaannya saat melakukan kegemarannya itu.

Mengenakan topeng Kamen Rider mengijinkannya untuk menanggalkan topeng anak SMP yang wajib membuat sini-situ bangga. Di dalam kostum, ia adalah pahlawan. Ia berhak berlari, merasa bangga, dan berhak memiliki kepercayaan diri walau di luar ia dicaci maki. (hal 134)

Gaya penceritaan penulis udah oke menurut gue, meski kadang-kadang nggak konsisten sama penggunaan kata "gua" dan "aku" dalam dialog Ocha. Terus masih banyak typo bertebaran dimana-mana kayak orang dikejar deadline. Haha.

Masih ada sekian banyak lagi karakter (nggak usah gue absenin kan, ya? kalo penasaran baca aja bukunya :p) yang belum dikenalkan lebih dekat oleh penulisnya. Juga beberapa karakternya masih sangat misterius seperti sosok Ibu Kartini sang Kepala Sekolah. Ditambah lagi akan ada kemunculan anggota baru dalam series berikutnya. Karena itu, gue harap Plot Point memenuhi rencananya untuk menerbitkan sisa series ini sampai tamat. Kan tanggung juga, gue udah terlanjur kepo sama si Nina Nina itu.

Rating : 4/5 bintang.

Review ini diikutsertakan dalam :
-2013 New Authors Reading Challenge

1 komentar:

Tammy Rahmasari mengatakan...

Ngakak pas liat oppai mouse :)))))

Posting Komentar